“TMC sebagai salah satu langkah mitigasi karhutla telah berjalan dengan baik, dan ada peningkatan curah hujan hingga 193,5 mm (181 25%)' dari prediksi BMKG untuk meredam hotspot,” ucapnya.
Luhut menjelaskan, mitigasi karhutla dengan operasi TMC juga perlu dilaksanakan pada mitigasi kekeringan untuk mengurangi dampak langsung pada masyarakat dengan pengisian waduk sebagai sarana irigasi, PLTA, dan wisata.
Baca Juga:
ASN Pemprov Riau Dilarang Gunakan Kendaraan Dinas Saat Libur Nataru
“Selain dilakukan oleh pemerintah, operasi TMC perlu didorong untuk dilakukan pihak swasta,” jelasnya.
Sementara itu, Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika Indonesia (BMKG) Dwikorita Karnawati menuturkan, bahwa dirinya telah mengingatkan musim kemarau kering ini kepada setiap Kepala Daerah.
Tetapi hingga saat ini, baru dua daerah saja yang baru mengeluarkan surat keputusan atau surat izin Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) yaitu Provinsi Riau dan Provinsi Sumatera Selatan.
Baca Juga:
Habitatnya Rusak Akibat Karhutla, Kucing Hutan Masuk ke Permukiman Warga
“Namun, saat kami pantau sampai hari ini yang berhasil melakukan baru Provinsi Riau dan Sumatera Selatan yang telah mengeluarkan surat izin atau SK untuk modifikasi cuaca tersebut,” tuturnya.
“Untuk provinsi yang lain kami mohon agar segera dikeluarkan di sisa-sisa tetes terakhir air hujan, semoga masih bisa dimodifikasi cuaca sebagaimana yang diharap," harapnya.
Sementara, Gubernur Riau (Gubri), Syamsuar membenarkan bahwa dirinya telah mengantisipasi dengan cara membuat Surat Keputusan Gubernur Riau dengan Nomor : Kpts 191/ II / 2023 tentang penetapan siaga darurat bencana kebarakan hutan dan lahan Provinsi Riau.