Terkait kantor Lelang Holding PTPN-KPBN, kami mengucapkan terimaksih karena sudah menyediakan data tentang harga CPO selama ini dan kini saatnya Bursa CPO yang menjadi acuannya harga TBS petani dan acuan dari PKS-PKS yang tidak memiliki refinery.
“Jangan ada dusta diantara kita, semua harus saling menjaga, inilah masa depan Indonesia dan dunia mengharapkannya” ujarnya.
Baca Juga:
Kemendag-Polri Sinergi Amankan Pompa BBM Tidak Sesuai Ketentuan di Bogor
“Pelaku usaha hilir harus menunjukkan merah putih nya, dan menunjukkan bahwa sawit itu hebat untuk semua, bukan hanya untuk kelompok terbatas,” lanjutnya.
Perlu menjadi catatan semua pihak, bahwa permasalahan dari acuan harga yang menyebabkan harga TBS murah selama ini, dapat memaksa produktivitas kebun petani anjlok. Pasalnya, petani tidak melakukan pemupukan dengan benar. Ujungnya adalah hasil panen yang mengecewakan.
Selama satu setengah tahun ini harga TBS di bawah HPP (harga pokok produksi) ditambah harga pupuk yang melambung mencapai 300%. Kendati harga pupuk sudah turun tapi akibat penentuan harga yang tidak fair dampak terhadap anjloknya produktivitas kebun petani masih akan berlangsung hingga pertengahan 2024 nanti.
Baca Juga:
Kemendag Terbitkan Permendag Ekspor, Beri Kemudahan dan Kepastian bagi Eksportir
“Kami petani sawit sangat berharap peran dari korporasi sawit terkhusus ekaportir supaya menjadikan Bursa ini sebagai tempat melakukan transaksi terkait minyak sawit,” harap Tri Chandra.
[Redaktur: Mega Puspita]