Riau.WahanaNews.co - Kehadiran bursa acuan harga CPO (crude palm oil) adalah kepentingan tidak hanya pelaku usaha sawit, tapi juga bangsa Indonesia. Begitu salah satu point penting arahan Menteri Perdagangan (Mendag), Dr (Hc) Zulkifli Hasan dalam acara “Launching Bursa CPO Indonesia”, di Hotel Mulia, Jakarta beberapa waktu lalu, dikutip Senin (16/10/2023).
Ditegaskan oleh Mendag, perlu ada pembenahan terus menerus bagi bursa acuan ini, menuju harga yang transparan, memenuhi rasa adil untuk semua pelaku usaha CPO, akuntabel, dan real time. Karenanya, dibutuhkan pelibatan seluruh unsur yang terlibat dalam usaha CPO. Mengingat pemerintah hanya sebagai pengatur kebijakan, maka sifat dari keberadaan bursa adalah voluntary.
Baca Juga:
Kemendag-Polri Sinergi Amankan Pompa BBM Tidak Sesuai Ketentuan di Bogor
“Sampai saat ini terdapat 18 pelaku usaha hilir CPO yang sudah siap terlibat dalam bursa ini, sebagaimana dilaporkan Kepala Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti) Didid Noordiatmoko kepada Mendag dan peserta yang hadir. Jadi Tanggal 23 Oktober mendatang bursa ini sudah live dan berjalan secara efektif,” ujar Mendag.
Dr. Tri Chandra Aprianto, perwakilan DPP (Dewan Pimpinan Pusat) APKASINDO (Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia yang hadir langsung atas undangan Kemendag menyambut baik launching ini dan ini peluang memperbaiki harga tandan buah segar (TBS) petani.
“Kami petani sawit sangat happy atas langkah Kemendag melalui Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti) yang telah merilis bursa CPO pada hari ini dan sangat berharap bisa segera berdampak pada harga TBS menjadi lebih adil. Kata kuncinya adalah fair trade pada bursa ini, jika bursa ini fair trade maka hulu akan sangat terdampak positif,” kata Dr. Tri Chandra Aprianto yang juga merupakan Sekjend LPP (Lembaga Pengembangan Pertanian) PBNU.
Baca Juga:
Kemendag Terbitkan Permendag Ekspor, Beri Kemudahan dan Kepastian bagi Eksportir
“Sebagai contoh, kasus larangan ekspor CPO 2022 lalu adalah kasus di sektor hilir, namun sangat fatal berpengaruh dengan ambruknya harga TBS petani, namun hikmahnya adalah dunia tersadar bahwa tidak bisa lepas dari minyak nabati sawit,” lanjut Tri Chandra.
Kami petani sawit tidak hanya diem saja, DPP APKASINDO sudah melakukan studi banding ke beberapa negara produsen CPO dan pembeli CPO seperti Malaysia, China, Pakistan, India dan terakhir mengadakan pertemuan dengan Asosiasi Petani Sawit Negara-negara produsen CPO yang difasilitasi oleh CPOPC (Council of Palm Oil Producing Countries).
“Semua itu telah menjadi sumber inspirasi kami untuk bisa lebih berperan dalam lobi diplomasi internasional. Sawit kita harus dijaga bersama-sama, tiga stakeholder sawit harus bahu-membahu,” kata Tri Chandra pada saat acara diskusi.
Terkait kantor Lelang Holding PTPN-KPBN, kami mengucapkan terimaksih karena sudah menyediakan data tentang harga CPO selama ini dan kini saatnya Bursa CPO yang menjadi acuannya harga TBS petani dan acuan dari PKS-PKS yang tidak memiliki refinery.
“Jangan ada dusta diantara kita, semua harus saling menjaga, inilah masa depan Indonesia dan dunia mengharapkannya” ujarnya.
“Pelaku usaha hilir harus menunjukkan merah putih nya, dan menunjukkan bahwa sawit itu hebat untuk semua, bukan hanya untuk kelompok terbatas,” lanjutnya.
Perlu menjadi catatan semua pihak, bahwa permasalahan dari acuan harga yang menyebabkan harga TBS murah selama ini, dapat memaksa produktivitas kebun petani anjlok. Pasalnya, petani tidak melakukan pemupukan dengan benar. Ujungnya adalah hasil panen yang mengecewakan.
Selama satu setengah tahun ini harga TBS di bawah HPP (harga pokok produksi) ditambah harga pupuk yang melambung mencapai 300%. Kendati harga pupuk sudah turun tapi akibat penentuan harga yang tidak fair dampak terhadap anjloknya produktivitas kebun petani masih akan berlangsung hingga pertengahan 2024 nanti.
“Kami petani sawit sangat berharap peran dari korporasi sawit terkhusus ekaportir supaya menjadikan Bursa ini sebagai tempat melakukan transaksi terkait minyak sawit,” harap Tri Chandra.
[Redaktur: Mega Puspita]