Ia pun menekankan agar ke depan, para pegawai, khususnya milenial, bisa menjadi lebih andal untuk mengelola perusahaan sawit.
"Kita ingin transformasi dari sisi people-nya benar-benar terlihat. Bagaimana transformasi ini bisa menjadilkan PalmCo menjadi perusahaan sawit terdepan, bukan hanya dari on-farmnya, tapi juga off-farm untuk bisa melakukan downstream, value creation, termasuk renewable energy yang sustainable,” tambah Tiko.
Baca Juga:
PalmCo, Subholding BUMN Sawit PTPN III, Tunda Rencana IPO Namun Tetap Persiapkan
Menurutnya, hal ini juga penting lantaran tantangan yang kerap muncul dalam merger perusahaan adalah terkait integrasi SDM. Namun, hal ini dinilai tidak menjadi kendala di PTPN Group karena mendapat dukungan dari serikat pekerja.
Tiko berharap, kekompakan bisa tetap terjaga dan tidak akan ada gejolak yang mengganggu kinerja perusahaan.
"PalmCo akan fokus meningkatkan hilirisasi produk-produk kelapa sawit. Selanjutnya, untuk bidang energi seperti biogas, biodiesel sustainable efficient fuel, dan produk lainnya juga akan menjadi perhatian perusahaan,” terang Tiko.
Baca Juga:
Wamen BUMN Sebut PalmCo Akan Menjadi Perusahaan Sawit Terbesar Dunia
Sebagai informasi, pembentukan PalmCo dan SupportingCo merupakan implementasi dari Program Strategis Nasional (PSN) yang bertujuan untuk mewujudkan kemandirian, khususnya di bidang ketahanan pangan dan energi.
Integrasi PTPN Group juga merupakan bentuk dukungan perusahaan dalam memperkuat ketahanan ekonomi untuk melalui hilirisasi sektor pangan.
Termasuk untuk mengembangkan wilayah dalam mengurangi kesenjangan dan menjamin pemerataan melalui Peremajaan Sawit Rakyat (PSR). Juga membangun lingkungan hidup, meningkatkan ketahanan bencana, dan perubahan iklim melalui akselerasi pengembangan energi terbarukan.