"Ini bukan lagi mendisiplinkan siswa, tetapi lebih kepada mempermalukan. Saya melihat sejak pagi hingga siang mereka dibiarkan duduk di lantai, sementara lalu lalang guru, siswa, bahkan ada rapat dari pihak luar di sekolah. Disiplin itu boleh, tetapi harus ada batas waktunya. Kasihan anak-anak didik itu, mereka tentu merasa tertekan dan malu," kata Randauli.
Menanggapi hal tersebut, Kepala SMA Negeri 18 Pekanbaru, Wan Roswita, menegaskan bahwa kebijakan itu bukan bentuk hukuman, melainkan pembiasaan belajar mandiri bagi siswa yang datang terlambat.
Baca Juga:
Dana BOS Ratusan Juta untuk Perpustakaan, Mengapa Siswa SDN 181 Pekanbaru Masih Berbagi Buku?
"Ini bukan hukuman Pak, tetapi mereka disuruh belajar sendiri. Kami hanya ingin memberikan kedisiplinan kepada siswa-siswi kami," ujar Wan Roswita.
Setelah mendapat perhatian dari awak media dan LSM PALAK WATCH, para siswa yang sebelumnya berada di selasar kemudian dipersilakan masuk ke ruang belajar.
[Redaktur: Adi Riswanto]