Ia melanjutkan, fenomena suhu panas terik yang terjadi atau secara meteorologi disebut Suhu Maksimum Harian ini dipicu oleh beberapa kondisi dinamika atmosfer sebagai berikut:
1. Minimnya tingkat pertumbuhan awan
Baca Juga:
Sumedang dan Majalengka Jadi Salah Satu Daerah dengan Jumlah Petir Tertinggi di Bulan Maret 2025
Kondisi cuaca di sebagian besar wilayah Indonesia terutama di Jawa, Bali, hingga Nusa Tenggara didominasi oleh kondisi cuaca yang cerah dan sangat minim tingkat pertumbuhan awan, terutama pada siang hari.
Kondisi ini menyebabkan penyinaran Matahari pada siang hari ke permukaan Bumi tidak mengalami hambatan signifikan oleh awan di atmosfer, sehingga suhu pada siang hari di luar ruangan terasa sangat terik.
"Seperti diketahui, bahwa saat ini sebagian besar wilayah Indonesia terutama di selatan ekuator masih mengalami musim kemarau dan sebagian lainnya akan mulai memasuki periode peralihan musim pada periode Oktober-November ini, sehingga kondisi cuaca cerah masih cukup mendominasi pada siang hari," terangnya.
Baca Juga:
Potensi Cuaca Ekstrem Masih Berlanjut hingga Lebaran, PLN Siapkan Langkah Antisipatif
2. Posisi semu Matahari
Guswanto melanjutkan, pada Oktober ini, posisi semu Matahari menunjukkan pergerakan ke arah selatan ekuator. Ini berarti, sebagian wilayah Indonesia di selatan ekuator termasuk wilayah Jawa hingga Nusa Tenggara mendapatkan pengaruh dampak penyinaran Matahari yang relatif lebih intens dibandingkan wilayah lainnya.
Di mana pemanasan sinar Matahari cukup optimal terjadi pada pagi menjelang siang dan pada siang hari. Kendati demikian, fenomena astronomis ini tidak berdiri sendiri dalam mengakibatkan peningkatan suhu udara secara drastis atau ekstrem di permukaan Bumi.