Sementara itu, penjaga sekolah SMA Negeri 2 Batang Gangsal membenarkan kondisi tersebut. Ia menjelaskan bahwa sekolah ini baru dua kali menamatkan peserta didik sejak berdiri.
"Sekolah ini baru menamatkan anak didik dua kali. Kepala sekolah kalau tidak salah berdomisili di Tembilahan, statusnya juga belum definitif. Beliau masih mengajar, jadi sistemnya seminggu di sini, seminggu di sana,” ungkapnya, Jumat (30/01/2026).
Baca Juga:
Diduga Marak Praktik “Kencing” CPO di Jalan Lintas Sumatera, Gudang Penimbunan di Inhu Jadi Sorotan
Terkait persoalan toilet, penjaga sekolah menyebut kendala utama terletak pada ketersediaan air bersih.
Baca Juga:
Warga Dusun 7 Keluhkan Pungutan Ganti Rugi Tanaman dalam Pembangunan Tiang Listrik
"Permasalahan utama toilet itu air. Kemarin sudah empat orang melakukan pengeboran, tapi belum berhasil. Kalau tidak salah dananya sampai Rp4 juta, namun tetap belum menemukan sumber air. Akibatnya kondisi toilet jadi seperti sekarang, rusak dan tidak terawat,” pungkasnya.
Menanggapi kondisi tersebut, Ketua Lembaga Aliansi Indonesia (LAI), Rudi Walker Purba, menyampaikan kritik keras terhadap pihak-pihak terkait yang dinilai kurang memberikan perhatian serius.
"Kami sangat menyayangkan kondisi sekolah yang tampak hancur, kumuh, dan kusam ini. Dugaan kami, hal ini akibat kurangnya kepedulian dari pihak-pihak terkait. Sekolah yang baru dibangun seharusnya masih dalam kondisi prima, bukan justru mengalami kerusakan nyata seolah tanpa pemeliharaan berkala. Kami berharap instansi terkait segera turun tangan dan memberi perhatian serius. Sangat kasihan siswa-siswi yang harus berjalan jauh hanya untuk memenuhi kebutuhan dasar seperti buang hajat,” tegas Rudi.