RIAU.WAHANANEWS.CO, Indragiri Hulu
Kondisi infrastruktur SMA Negeri 2 Batang Gangsal yang berlokasi di Jalan Lintas Timur, Desa Ringin, Kecamatan Batang Gangsal, Provinsi Riau, menuai keprihatinan mendalam. Sekolah negeri yang baru berusia kurang lebih dua tahun sejak dibangun itu kini tampak mengalami kerusakan serius, terutama pada fasilitas sanitasi yang seharusnya menjadi kebutuhan dasar bagi peserta didik.
Baca Juga:
Diduga Marak Praktik “Kencing” CPO di Jalan Lintas Sumatera, Gudang Penimbunan di Inhu Jadi Sorotan
Pantauan di lapangan menunjukkan sejumlah toilet sekolah tidak dapat difungsikan. Selain terendam air, kondisi toilet tampak kotor, berbau menyengat, dan tidak memiliki pasokan air bersih. Tak hanya itu, beberapa pintu ruang kelas dan fasilitas sekolah lainnya juga terlihat rusak, menimbulkan kesan kumuh dan tidak terawat pada bangunan yang seharusnya masih tergolong baru.
Kondisi tersebut dikeluhkan oleh wali murid. Salah seorang orang tua siswa kepada awak media menyampaikan bahwa keterbatasan fasilitas sanitasi memaksa siswa mencari alternatif yang tidak layak.
Baca Juga:
Warga Dusun 7 Keluhkan Pungutan Ganti Rugi Tanaman dalam Pembangunan Tiang Listrik
“Kalau murid mau buang air, yang laki-laki terpaksa ke semak-semak. Sementara yang perempuan harus berjalan ke mushola terdekat yang jaraknya cukup jauh. Abang bisa lihat sendiri kondisi toiletnya, sekolah baru dibangun tapi toiletnya banjir, bau, dan tidak bisa digunakan. Air pun sudah lama tidak tersedia,” ujar wali murid tersebut dengan nada kesal.
Situasi ini tentu sangat memprihatinkan, mengingat sanitasi yang layak merupakan hak dasar siswa sekaligus bagian penting dari standar pelayanan pendidikan. Ketiadaan toilet yang berfungsi dinilai tidak hanya mengganggu kenyamanan, tetapi juga berpotensi membahayakan kesehatan serta keselamatan peserta didik.
Sementara itu, penjaga sekolah SMA Negeri 2 Batang Gangsal membenarkan kondisi tersebut. Ia menjelaskan bahwa sekolah ini baru dua kali menamatkan peserta didik sejak berdiri.
"Sekolah ini baru menamatkan anak didik dua kali. Kepala sekolah kalau tidak salah berdomisili di Tembilahan, statusnya juga belum definitif. Beliau masih mengajar, jadi sistemnya seminggu di sini, seminggu di sana,” ungkapnya, Jumat (30/01/2026).
Terkait persoalan toilet, penjaga sekolah menyebut kendala utama terletak pada ketersediaan air bersih.
"Permasalahan utama toilet itu air. Kemarin sudah empat orang melakukan pengeboran, tapi belum berhasil. Kalau tidak salah dananya sampai Rp4 juta, namun tetap belum menemukan sumber air. Akibatnya kondisi toilet jadi seperti sekarang, rusak dan tidak terawat,” pungkasnya.
Menanggapi kondisi tersebut, Ketua Lembaga Aliansi Indonesia (LAI), Rudi Walker Purba, menyampaikan kritik keras terhadap pihak-pihak terkait yang dinilai kurang memberikan perhatian serius.
"Kami sangat menyayangkan kondisi sekolah yang tampak hancur, kumuh, dan kusam ini. Dugaan kami, hal ini akibat kurangnya kepedulian dari pihak-pihak terkait. Sekolah yang baru dibangun seharusnya masih dalam kondisi prima, bukan justru mengalami kerusakan nyata seolah tanpa pemeliharaan berkala. Kami berharap instansi terkait segera turun tangan dan memberi perhatian serius. Sangat kasihan siswa-siswi yang harus berjalan jauh hanya untuk memenuhi kebutuhan dasar seperti buang hajat,” tegas Rudi.
Lebih lanjut, Rudi menilai persoalan ini tidak bisa dipandang sebagai masalah teknis semata, melainkan mencerminkan lemahnya pengawasan dan manajemen fasilitas pendidikan.
Di sisi lain, sangat disayangkan sikap Alhalis, yang disebut sebagai Kepala SMA Negeri 2 Batang Gangsal, hingga berita ini diturunkan belum memberikan keterangan resmi. Upaya konfirmasi yang dilakukan awak media guna memperoleh klarifikasi dan perimbangan informasi tidak mendapatkan respons.
Sikap menutup diri dari upaya konfirmasi tersebut dinilai mencederai semangat transparansi dan akuntabilitas publik, terlebih menyangkut fasilitas pendidikan yang bersumber dari dana negara dan menyangkut hajat hidup serta keselamatan peserta didik. Dalam konteks ini, keterbukaan informasi seharusnya menjadi bagian dari tanggung jawab moral dan profesional seorang pimpinan lembaga pendidikan.
Media tetap membuka ruang seluas-luasnya bagi pihak sekolah maupun instansi terkait untuk memberikan klarifikasi, penjelasan, atau tanggapan resmi demi keberimbangan informasi sebagaimana diamanatkan dalam Kode Etik Jurnalistik.
Hingga kini, masyarakat berharap adanya langkah cepat dan nyata dari Dinas Pendidikan maupun pemerintah daerah setempat agar kondisi SMA Negeri 2 Batang Gangsal segera dibenahi, sehingga siswa-siswi dapat kembali menjalani proses belajar mengajar di lingkungan yang layak, sehat, dan manusiawi.
[Redaktur: Adi Riswanto]