Rangkaian kegiatan kemudian dilanjutkan dengan penandatanganan komitmen bersama untuk menjaga pesisir Riau serta penanaman mangrove. Kegiatan ini menjadi simbol bahwa upaya menghadapi abrasi tidak dapat dilakukan oleh pemerintah semata, melainkan membutuhkan keterlibatan masyarakat, dunia pendidikan, komunitas, tokoh masyarakat serta berbagai pemangku kepentingan.
Baca Juga:
Polres Inhil bersama Pemkab Inhil dan BKSDA Riau Perkuat Sinergi Tangani Gangguan Kera Liar di Tembilahan
Kapolda Riau Irjen Herry Heryawan mengatakan, Ekspedisi Merah Putih Presisi merupakan ikhtiar untuk memastikan kehadiran negara dapat dirasakan masyarakat, termasuk mereka yang tinggal jauh di kawasan perkotaan dan memiliki keterbatasan akses.
Menurutnya, kehadiran aparat dan pemerintah di wilayah pesisir bukan sekadar kegiatan seremonial, tetapi harus mampu menjawab persoalan nyata yang dihadapi masyarakat.
Baca Juga:
Masyarakat Tembilahan Diimbau Tetap Tenang dan Waspada Hadapi Kemunculan Monyet Ekor Panjang di Permukiman
“Kita ingin masyarakat yang berada jauh di pesisir juga merasakan kehadiran negara. Kita datang membawa kepedulian sekaligus bergerak bersama mencari solusi,” kata Herry.
Ia menegaskan, persoalan abrasi harus dipandang secara menyeluruh. Abrasi tidak hanya berkaitan dengan kerusakan lingkungan, tetapi juga menyangkut ruang hidup, aset masyarakat, sumber penghasilan serta masa depan generasi yang akan datang.
“Ketika pesisir tergerus, yang kita pertaruhkan bukan hanya tanah. Ada kebun masyarakat, sumber penghidupan dan masa depan generasi berikutnya. Menjaga mangrove berarti menjaga masyarakat yang hidup di belakangnya,” ujarnya.