RIAU.WAHANANEWS.CO, Indragiri Hulu –
Nasib pilu menimpa Elvina Megawati Tampubolon, seorang guru honorer yang telah mengabdi selama kurang lebih 14 tahun di SDN 024 Hulu Peladangan, Kecamatan Peranap, Kabupaten Indragiri Hulu, Provinsi Riau. Guru bergelar sarjana tersebut diduga harus menerima kenyataan pahit dirumahkan setelah dinilai terlalu vokal mempertanyakan sejumlah kejanggalan dalam pengelolaan Dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS).
Baca Juga:
Diduga Pungli Berkedok Seragam dan Uang Pembangunan, SMKN 1 Seberida Tuai Sorotan, Kepsek Masih Bungkam
Peristiwa ini menuai perhatian luas. Sejumlah Koordinator Wilayah (Korwil) Pendidikan dari kecamatan lain, serta mantan rekan sejawat, angkat bicara dan menyampaikan pandangan yang secara tidak langsung mempertanyakan kinerja pihak-pihak terkait.
Salah seorang Korwil Pendidikan Kecamatan, yang enggan disebutkan namanya, menyampaikan bahwa secara administratif, sebenarnya masih terdapat ruang untuk mempertahankan guru honorer dengan masa pengabdian panjang seperti Elvina.
“Sebetulnya banyak cara kalau memang ingin mempertahankan. Biasanya kalau sudah lama menghonor, administrasinya sudah lengkap. Di Dapodik pasti sudah masuk, sudah punya NUPTK. Jadi di ARKAS masih bisa dimasukkan gajinya,” ujarnya melalui pesan singkat WhatsApp, Rabu (28/01/2026).
Baca Juga:
Diduga Dipaksakan, Pembelian TKD Desa Sibabat Seret Dana BUMDes Rp50 Juta
Pernyataan tersebut seolah menjadi tamparan keras bagi pihak sekolah dan Korwil setempat, mengingat secara sistem, keberadaan guru honorer senior tidak serta-merta harus berakhir tanpa solusi.
Sementara itu, Korwil Pendidikan dari kecamatan lain secara lebih tegas mempertanyakan peran dan kepekaan Korwil Pendidikan Kecamatan Peranap terhadap dinamika yang terjadi di sekolah-sekolah di bawah naungannya.
“Seharusnya Korwil di kecamatan itu lebih aktif dan peka terhadap isu-isu yang berkembang di sekolah. Korwil itu perpanjangan tangan Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota, bertugas melakukan pengawasan, pembinaan, dan fasilitasi pendidikan. Bisa jadi karena jarak tempuh dan kondisi medan jalan yang sulit, kuat dugaan Korwil kurang aktif turun ke sekolah,” ucapnya.